Minggu, 04 Desember 2011

7 menit yang berharga


Alkisah suatu hari demi menuntaskan skripsi, saya berniat menghubungi salah satu narasumber untuk interview. Dibantu mb Kristin dari Percik akhirnya saya terhubung dengan beliau, seorang pejabat kepolisian yang notabene tidak saya kenal. Hari itu pagi pukul 10 saya mendapat sms yang isinya menyatakan bahwa beliau  kebetulan hari ini sedang ada acara teleconference di Polresta Solo dan saya diminta menemui disana jam 14.30. Giranglah hati saya mendengarnya,, hehee,, (tapi nggak pake acara loncat-loncat, cuma senyum-senyum aja). Langsung deh saya mandi dan bersiap-siap. Jam 14.00 saya tiba di Polresta eh lebih tepatnya di sebelah Polresta, tempat es buah dan es degan, ceritanya sambil menunggu jam kencan saya mau nunggu sambil ngadem minum es.  Tepat jam 14.30 saya masuk Polres, beliau sms dan saya di suruh ke ruang wakapolres, maka saya bertanya pada polisi dimana ruangan wakapolres sambil menceritakan tujuan kedatangan saya.  Saya diminta naik ke lantai atas. Sampai di lantai atas tepat di depan tulisan ruang wakapolres saya didatangi polwan dan singkat cerita saya disuruh turun ke bawah dan menunggu sampai di panggil. Usut punya usut ternyata acara teleconference molor. Alhasil waktu itu saya menunggu di lobi sampai jam 17.00. Menunggu seorang diri di tempat asing bisa dibayangkan bagaimana rasanya, hiburan saat itu hanya HP. Jadilah saya main angry bird sambil menunggu. Sampai akhirnya beliau sms saya bilang kalau menunggunya di best western saja karena beliau dan keluarganya menginap disana. Tadinya saya pikir mau pulang saja dulu, mandi dan makan karena tubuh sudah lengket dan perut sudah minta diisi,, eh ternyata beliau sms :: 15 menit lagi ditunggu disana. Akhirnya saya meluncur ke best western, dan sampai sana ... krik.. krik... hotelnya sepi... Dan setelah itu sms saya tdk dbls. Walau agak kecewa tp agak terhibur dengan desain hotelnya, banyak banget tempat yang asyik buat foto-foto,, pas giliran mau foto,, hp nya ngedrop,, haduuhh.... Saya masih setia nunggu,, sampai akhirnya sebel juga tdk diberi kabar,, waktu itu sempet sms agak tegas dan akhirnya dibales,, "saya sedang makan nasi liwet",, haduuuh,,, rasanya campur aduk,, capek iya,, bete iya,, laper apalagi... Saya sms lg tanya ke hotel jam brp dan tdk dbls akhirnya karena tidak ada konfimasi lagi,, istilahnya saya digantung,, nggak diterima nggak ditolak... Karena capek tubuh capek hati,, jam 21.00 saya putuskan menyerah, pulang ke rumah... Malemnya saya mengadu sm Tuhan,, saya saat itu begitu kecewa karena ekspektasi yang terlalu tinggi,, tapi setelah itu saya bisa memahami bahwa pastilah beliau ini orang penting dan banyak yang diurusi. Maklumlah pejabat. Malam itu saya tidur nyenyak dan paginya sekitar  pukul 09.00 hp saya berbunyi dan memunculkan nama beliau. Woow,, saya terkejut,, beliau meminta maaf karena kemarin teleconference yang molor membuat jadwalnya berantakan hingga tak bisa menemui saya dan menjanjikan esok harinya akan menyediakan waktu untuk wawancara jam 08.00.

Keesokan harinya saya berangkat dari rumah pagi-pagi benar, masih mengantuk sekali tapi apa boleh buat saya ada janji dengan pejabat jam 8 pagi pikir saya. Sampai disana jam 8 tepat dan disana sedang diadakan apel pagi. Lalu saya mlipir ke warung soto dan ngeteh dulu. Jam 8.30 apel selesai. Saya masuk, menemui provos dan diminta menunggu karena tamu beliau sudah banyak. Alhasil saya menunggu di provos sampai jam 9.45. Setelah itu beliau sms saya diminta masuk ke ruangan. Tapi sebelum masuk saya dicegah oleh asprinya katanya beliau ada tamu penting. Saya perlihatkan sms yang masuk ke hp saya lalu mereka mengecek nomornya dan ternyata terbukti benar saya sudah di sms disuruh masuk tapi mereka tidak berani memasukkan saya ke ruangan karena memang saat itu sedang banyak tamu, saya bisa dengar jelas suara perbincangan dan tawa mereka. Saya lalu sms menginformasikan kalo saya diluar dan diminta menunggu diluar. Lalu sekitar jam 10.30 ada orang keluar dari ruangan dan menyuruh saya masuk, ternyata dialah orang yang saya tunggu-tunggu sejak 2 hari lalu,, hahaha... Giranglah hati saya,, tapi ternyata harus ditahan dulu karena saya diterima masuk semetara disitu masih banyak tamu,, dan itu berarti interview belum bisa dimulai.. Jadilah saya, beliau, dan tamu-tamunya bercakap-cakap tentang pemerintahan, idealisme, dan harapan bagi bangsa. Memang nggak nyambung sama skripsi saya tapi pembicaraan saat itu cerdas. Saya tidak kecewa. Setelah tamu-tamu itu pulang dalam hati saya menjerit YES!! tapi ternyata ada tamu yang baru datang ke ruangan,, alhasil ngobrol lagi,, eh lebih tepatnya kalau yang ini mendengarkan obrolan. Disela-sela menerima tamu akhirnya saya mendapat kesempatan bertanya setelah beliau membuka percakapan tentang polmas, karena saya nggak berani donk nyela pembicaraan sebelumnya jadi ya nunggu... Dan saya mendapatkan waktu 7 menit untuk wawancara... Karena beliau sendiri yang mengakhirinya.. Tapi saya bersyukur untuk 7 menit yang berharga,, hahahaa

Jumat, 02 Desember 2011

Dilema Cinta


Ketika aku merasakan indahnya cinta
itulah hidup yang sempurna
Mencintai dan dicintai adalah kenyamanan
Aku merasakannya saat cinta ada dalam KITA

Waktu seakan berjalan tanpa terasa dalam perjalanan ini
Hingga suatu waktu kita tersadar bahwa rintangan yang sama tetap menghadang
Ketika semua dihadapkan pada persoalan cinta
Tak jarang KITA berkata “mungkin memang bukan jodoh”
kerapkali terbesit pikiran untuk mengakhiri pertalian cinta ini

Tapi benarkah ini pertanda kita memang tak jodoh?
Bagaimana kalo ternyata ini adalah bagian yang harus kita menangkan untuk akhir yang indah?

Benarkah bila aku mengira bahwa cinta ini memang untuk diperjuangankan?
Cinta yang harus sekuat batu karang ketika dihempas ombak dan tetap berdiri kokoh.
Cinta yang membutuhkan ketetapan hati, yang akan bertahan bukan menghindar
Atau apakah keyakinan ini hanya sebuah pembenaran yang lahir karena keegoisanku

Kadang aku merasa terlalu yakin bahwa kita yang akan memenangkan pertandingan ini
Tapi suatu waktu akupun merasa terlampau lelah untuk menahan kesakitan yang sama,
membuatku ragu melihat masa depan itu, memaksaku untuk hampir menyerah
Kalaupun kini perjalanan kita harus terhenti, untuk sejenak atau mungkin selamanya
Ini semua mungkin karena cinta memang membutuhkan pengorbanan,
meski ini semua mengorbankan perasaan kita, dan terasa begitu berat

Minggu, 30 Oktober 2011

My precious

Saya tahu dia sudah lama sekali, dari sejak ikut sekolah minggu di gereja mungkin, tapi dekat dengan dia belum lama. Sampai menginjak remaja, dari SMP, SMA  kami tak punya hubungan dekat, hanya teman biasa. Kami sering bersama tapi kebersamaan itu sebatas hanya sebagai teman gereja. Sampai suatu ketika satu peristiwa menimpa saya. Saat saya merasa "sendiri", terpuruk, dia hadir, dia menemani. Mulai saat itu kami jadi lebih dekat. Selain itu kami juga terlibat satu pelayanan di gereja.


Masih ingat jelas waktu itu jam 3.30 pagi hampir setiap minggu kami bertugas berangkat ke pasar legi untuk mengambil makanan dan dijual di bazar gereja untuk penggalangan dana. Seingat saya mungkin di moment-moment itu kali pertama saya merasakan perasaan yang berbeda. Ketika kami berboncengan motor, dia memegang tangan saya, dia bilang tangan saya dingin, lalu dia memasukkan ke saku jaketnya sekedar untuk menghangatkan. Mulai dari sana, hingga kini genap hampir 3 tahun kami bersama, lebih dari sahabat.


Menguntai kisah dengannya sebenarnya tak mudah, bukan hanya karena kami kini terpisah jarak. Tapi ada satu rintangan yang belum mampu kami atasi, kami hanya mampu menghindari, bahkan dari awal memulai kisah ini. 

Terlepas dari itu semua, banyak hal yang saya dapatkan dari hubungan kami.
"Bila gunung di depan kita tidak juga berpindah, Tuhan sendiri yang akan memegang tangan kita dan memberi kekuatan untuk mendakinya"


Dia sosok yang sederhana, mandiri, punya tujuan hidup, bertanggung jawab, sangat mengasihi keluarganya, sangat sabar, bahkan begitu sabar. Ketika saya marah, panik, dia mampu menenangkan.. Dia juga lelaki yang bersahabat dan hobi menolong. Banyak hal yang aku kagumi dari sosoknya. Nice guy :)



Foto ini diambil di Semarang waktu perayaan 2 tahuna


Senin, 24 Oktober 2011

Happy wedding



Sekitar 2 tahun lalu teman dekat saya sewaktu kecil tiba-tiba mengabari bahwa dia akan segera menikah, saya kaget, dalam pikiran saya waktu itu belum terlintas mengenai pernikahan. Setalah 2 tahun berlalu, makin banyak teman-teman saya yang sudah dan akan menikah, saya sadar,, oh ternyata umur saya sudah banyak juga ya,, hahaa... Tapi sebenarnya dalam hati yang terdalam saya masih terkaget-kaget juga lho dengan keputusan beberapa teman yang menikah sebelum lulus kuliah. Dalam pikiran saya menikah  memang belum dan tidak akan jadi prioritas selama paling tidak 3 tahun mendatang. Untungnya pacar saya juga berpikir seperti itu. Kami ingin membangun karier terlebih dahulu. Ya memang itu juga perlu dipikirkan karena menikah tak cukup bermodal cinta saja bukan?. Tapi kadang kalau datang ke acara pernikahan kok jadi pengen ya,, haha,, mungkin terlena dengan prosesinya mungkin lebih tepatnya. Melihat rona bahagia dari mempelai, suasana pernikahan yang romantis, hm... saya begitu menikmati perasaan yang sulit diungkapkan waktu hadir disana.  Kisah cintanya kian pasti, mereka telah melewati satu jenjang pertalian dengan komitmen yang lebih serius. Menempuh hidup baru sebagai pasangan suami istri, tak hanya sebagai individu lagi. 

HAPPY WEDDING :D


Senin, 16 Mei 2011

MY BESTIES

nindut, nanda, agnes
agnes, beta, ninda, nanda, me

me, nindut, agnes

inova, lena, me, wida, unik

Selasa, 10 Agustus 2010

Tetap Santai Saat Memeriksakan Si Putih


Mengapa ia saya sebut si putih, karena pada dasarnya warnanya yang sesungguhnya adalah putih. Namun dengan banyaknya zat-zat makanan yang melewatinya warna sejatinya tak bisa bertahan selamanya.
Si Putih yang sehat berwarna putih bersih tanpa lubang. Namun si putih yang satu ini nampaknya sering kita sepelekan perawatannya. Baru setelah merasa sakit kita tahu bahwa menjaga kesehatannya merupakan langkah yang sangat penting. Ya, si putih, itulah gigi kita.
Sesungguhnya perawatan gigi yang dilakukan secara personal (dengan cara menyikat gigi) tidaklah cukup. Gigi juga memerlukan perawatan secara profesional, terlebih pada gigi sensitif atau gigi yang telah terlanjur mengalami kerusakan, misalnya pada gigi berlubang.
Namun sayangnya, saat sakit gigi menyerang mungkin kebanyakan dari kita akan menghindar untuk pergi ke dokter gigi. Tak hanya anak kecil, orang dewasa pun kadang memilih sakit gigi karena takut ke dokter gigi.
”Gigi merupakan alat pencernaan yang penting bagi manusia dan perlu dirawat dengan benar. Mengabaikan perawatan gigi karena ketakutan yang sebenarnya tidak perlu terjadi justru dapat berakibat buruk. Sakit gigi bila dibiarkan akan menjadi fenomena gunung es”, ujar drg. Retno, saat dijumpai di tempat prakteknya di Jl. Solo-Jogja Pucangan Kartasura, Jumat (16/2)
Dokter yang juga berpraktek di Puskesmas Kecamatan Kartasura mengungkap bahwa beberapa pasien enggan memeriksakan giginya karena hal-hal sebagai berikut :
1. Merasa malu karena giginya tidak pernah dirawat dan sudah terlanjur rusak parah
2. Takut dengan peralatan yang ada di dokter gigi
3. Pernah melihat/mendengar pengalaman buruk orang lain saat berkunjung ke dokter gigi.
4. Takut merasakan sakit bila mendapat tindakan tertentu (cabut gigi/tambal)
5. Takut mengeluarkan banyak biaya

Salah seorang pasien di tempat praktek dokter gigi berjilbab ini mengatakan bahwa rekomendasi dari saudara/sahabat sangat membantu dalam menciptakan suasana nyaman saat berkunjung ke dokter gigi karena merasa ada jaminan terpercaya.
”Tadinya saya takut periksa tapi setelah adik saya duluan periksa dan setelah dicabut tidak merasa sakit baru saya yakin untuk pergi ke dokter gigi,”ungkap Yanti (28).
Lain halnya dengan Sastika (17) ia memutuskan untuk berani memeriksakan giginya yang berlubang karena takut memikirkan efek buruk yang akan terjadi bila menunda perawatan gigi.
Jika anda masih merasa enggan ke dokter gigi, cobalah beberapa tips berikut untuk mengatasinya:
1. Pilihlah dokter gigi berdasarkan rekomendasi saudara/ teman/kenalan
2. Lawan ketakutan anda dengan memikirkan efek buruk yang akan terjadi bila anda menunda perawatan gigi
3. Mengkonsumsi makanan tinggi protein sebelum pemeriksaan gigi untuk menghilangkan kecemasan berlebihan
4. Mencoba mengatur pernafasan saat merasakan ketegangan
5. Pikirkan segala hal yang positif
6. Mencoba untuk relaks

Untuk anda yang takut merogoh kocek terlalu dalam untuk mendapatkan pengobatan dan perawatan gigi, cobalah untuk berkunjung di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) karena di tempat ini setiap obat diberikan secara cuma-cuma. Pasien hanya mengeluarkan sedikit uang bila nantinya diperlukan tindakan medis seperti operasi cabut gigi.
Gigi yang sehat akan memancarkan energi positif sehingga si pemiliknya menjadi sangat menarik. Begitu pentingnya gigi bagi manusia sehingga gigi perlu dirawat dengan benar. Jadi jangan takut pergi ke dokter gigi, tetap santai saja memeriksakan si Putih.

Rabu, 09 Juni 2010

Inilah Wisata Edukatif yang Memanusiakan Manusia


Ketika merasa penat dengan aktivitas sehari-hari, berwisata tentulah menjadi jalan keluar yang tepat. Selain melepas penat, berwisata akan memulihkan kembali kebugaran jasmani dan rohani. Pilihan yang bijaksana bila di dalam menentukan tujuan wisata tak hanya sekedar memilih tempat untuk berekreasi namun juga memikirkan unsur edukatif yang nantinya didapat.
Di Solo, Jawa Tengah ada sebuah tempat tujuan wisata menarik yang juga memiliki misi edukatif. Tak semua daerah memiliki tempat wisata seperti ini. Maka tak salah bila masyarakat Solo bolehlah berbangga karena hadirnya “Taman Satwa Taru Jurug”.
Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) merupakan sebuah kebun binatang dan juga taman wisata keluarga yang terletak di tepi sungai Bengawan Solo, tepatnya di Jl. Ir. Sutami. Taman yang dibangun pada lahan seluas 12 hektare ini pada awalnya merupakan pindahan Kebun Binatang Sriwedari yang dikenal dengan sebutan “Kebun Rojo“, dididirikan Sri Susuhunan Paku Buwono X pada tanggal 20 Dal 1381 atau 17 Juli 1901.
Sejak diresmikan tanggal 17 Januari 1976, taman ini dibuka untuk umum. TSTJ dapat dikunjungi setiap hari antara pukul 08.00-17.00 WIB. Pengunjung hanya perlu mengeluarkan uang Rp 6.000,00 (hari biasa), Rp 7.000,00 (hari minggu), Rp 8.000,00 (hari besar). Sementara pengunjung anak-anak dipungut biaya Rp 3.000,00. Di depan pintu masuk pengunjung akan disambut dengan tiga ekor gajah yang melenggak-lenggok di kandang besar yang sesekali memakan rerumputan.
Berjalan ke arah kanan kandang gajah merupakan kawasan kubah burung yang menarik apalagi bagi para penyuka unggas. Disini terdapat burung langka yang bercorak menarik seperti salah satunya burung kakak tua raja berbulu hitam dan mencolok di bagian tengkuknya. Burung ini memiliki warna merah dipipi dan paruh besar melengkung yang sanggup membelah tempurung kelapa. Tak ketinggalan koak malam, kakak tua putih, bayan, gagak gaok, merak hijau, bangkok julang emas, dan beraneka burung yang memiliki pesona tersendiri.
Di bagian sisi yang lain terdapat kawasan kebun binatang yang berisi beraneka satwa, jenis primata seperti monyet dan orang utan, kanguru tanah, rusa tutul, unta, beruang hitam, harimau sumatra, macan tutul, landak, lingsang, bahkan ular phyton.
Pengunjungpun dapat menyaksikan keluarga pelikan kacamata berenang gesit di kolam, burung dengan panjang tubuh 150 cm dengan berat sampai 11 kg ini memiliki paruh yang bekerja serupa jala penangkap ikan. Terdapat pula angsa, kasuari gelamir, ayam kapas, dan ayam mutiara.
Di taman ini terdapat pula Sanggar Gesang. Di dalamnya dibangun Monumen Gesang untuk menghormati jasa sang Maestro Keroncong yang populer dengan lagu Bengawan Solo. Sanggar Gesang ini dulunya sering dipergunakan untuk pertunjukan seni musik keroncong.
Terkhusus di hari minggu dan hari besar pengunjung bisa menikmati berkeliling taman dengan kereta mini atau bendi. Cukup merogoh kocek Rp 2.000,00 saja. Harga yang sama berlaku bila ingin menaiki perahu untuk berkeliling danau. Pengunjung juga dapat menaiki gajah dan unta dengan membayar Rp 5.000,00.
Tak perlu risau pula bila lelah dan perut keroncongan menyerang karena di sepanjang jalan berjejer warung makan yang menawarkan mie ayam, bakso, soto, tahu kupat, nasi goreng, dengan harga terjangkau antara Rp 4.000,00 – Rp 7.000,00. Aneka jenis permainan anak dan souvenir pun bisa dibeli disini untuk dijadikan oleh-oleh.
”Salah satu kelebihan taman ini adalah mudah dijangkau dengan angkutan umum. Untuk menuju Taman Satwa Taru Jurug Solo ini, perjalanan dapat dimulai dari Terminal Tirtonadi dan Stasiun Balapan. Pengunjung bisa menggunakan angkutan kota atau bus jurusan Palur dan dapat turun di depan lokasi”, ungkap Yuni Dwiyanto, kepala seksi pendapatan TSTJ.
”Taman ini adalah salah satu alternatif wisata yang baik dan mendidik. Pengunjung bisa menyatu dengan alam sehingga bisa lebih manusiawi. Sangat penting bagi anak-anak agar bisa belajar mengenal flora dan fauna sejak dini sehingga dapat mencintai lingkungan.” ungkap Yanto (31) yang saat itu mengantar rombongan anak-anak dari Madrasah Ibtidaiyah Sudirman Sukoharjo.